Estetiderma Perawatan Kulit Wajah
Medical Skin Peel Specialist
  • BLOG
  • WELCOME
  • OUR STORY
  • OUR TREATMENTS
  • PROMOTIONS
  • TEMUKAN KLINIK KAMI
  • FAQ
  • CONTACT US
  • CAREER

Inilah Sejarah Yang Hilang Tentang Tabir Surya

9/12/2015

Comments

 
Picture
Part 1. “Pada awalnya terdapatlah Cahaya”
Matahari telah menjadi bagian penting bagi kehidupan mahluk hidup di permukaan bumi. Selain menghasilkan cahaya, menghangatkan suhu udara, matahari juga menghasilkan energi yang diperlukan tumbuhan untuk berfotosintesa. Kehidupan mustahil terjadi tanpa adanya cahaya matahari.

Bukti-bukti yang diperoleh dari penemuan fosil mengarahkan pada kesimpulan bahwa kehidupan mula mula berlangsung didalam lautan dan kehidupan di darat mulai terbentuk setelah terbentuknya lapisan ozon yang menyeliputi lapisan atmosfer bumi. Ketika baru terbentuk, bumi hanya memiliki sedikit oksigen dan belum dilapisi ozon.
Picture
Pada saat itu, kehidupan di daratan bumi tidak mungkin terjadi oleh karena adanya sinar Ultraviolet C yang memiliki efek merusak bagi mahluk hidup. Cahaya Matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesa dan produksi oksigen hanya dapat menembus air hingga pada kedalaman tertentu saja. Pada saat itu kehidupan hanya mungkin terjadi didalam air.  

Fotosintesa tanaman yang terus berlangsung pada akhirnya meningkatkan kadar oksigen pada permukaan bumi. Dengan menggunakan serpihan mineral dari besi, silika, atau tanah liat yang pada saat itu berfungsi sebagai tabir surya primitive, kehidupan pada permukaan bumi mulai terbentuk pada perairan yang lebih dangkal hingga pada akhirnya berlanjut diluar permukaan air/daratan. Oleh karena itu, sejak awal kemunculannya, kehidupan pada permukaan bumi selalu diikuti dengan upaya-upaya perlindungan terhadap sinar matahari.
Picture
Hidup menjadi memungkinkan karena alam menyediakan sistem perlindungan tambahan yang luar biasa. Radiasi sinar matahari gelombang pendek (sinar Ultraviolet C) yang paling merusak terhalang untuk mencapai permukaan bumi melalui perisai pelindung, berupa gas yang menyelubungi bumi. Bagian terluar perisai ini adalah ionosphere, yang berfungsi memantulkan kembali sinar X ke ruang hampa udara diluar bumi. Dan bagian terdalamnya merupakan lapisan ozon, yang menyerap sinar Ultraviolet bergelombang pendek (UVC). Sebagai tambahan, sebagian besar radiasi sinar infra merah yang dipancarkan oleh Matahari diserap oleh uap air yang berada di atmosphere.
Part 2. “Awal Peradaban”
Picture
Berdasarkan sejarah peradaban manusia, terbit dan terbenamnya matahari merupakan salah satu fenomena yang pertama kali disadari sekaligus dipuja oleh manusia. Terbitnya matahari memberikan cahaya pada kehidupan dan diartikan dengan sesuatu yang baik, cerah, serta hangat. Terbenamnya matahari merupakan awal kegelapan sehingga sering dihubungkan dengan sesuatu yang buruk, jahat, serta kematian.
Legenda yang menceritakan tentang matahari terdapat pada hampir semua kebudayaan manusia. Dewa Matahari masyarakat Yunani kuno, Helios mengendarai kereta emas menuju Surga. Menurut beberapa ahli sejarah, salib menyimbolkan Matahari dan pancaran sinarnya. Lingkaran yang terdapat ditengah tengah salib masyarakat Celtic juga menyimbolkan matahari. Dewa Matahari masyarakat Jepang, Amaterasu, bahkan dianggap sebagai leluhur dari keluarga kerajaan Jepang.

Sulit untuk membayangkan bahwa manusia akan melindungi dirinya sendiri dari sesuatu yang mereka puja. Pada awalnya kulit yang mengalami kemerahan dan terasa perih setelah terpapar dengan sinar matahari dipercayai terjadi akibat panas yang dihasilkan oleh sinar Matahari, dan hal ini dapat dihindari dengan cara berteduh. Bagaimanapun, seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan, penyembahan terhadap Matahari semakin berkurang. Alih-alih menyembah matahari, manusia mulai mengetahui, mempelajari serta menganalisa hal hal yang berkaitan dengan radiasi sinar matahari.
Ditemukannya sinar Ultraviolet oleh German Ritter pada tahun 1801 tidak lepas dari hasil percobaan sebelumnya oleh Scheele dari Swedia yang dipublikasikan pada tahun 1777. Scheele menunjukkan bahwa kertas yang dicelupkan kedalam larutan perak klorida menjadi berwarna hitam setelah terpapar dengan sinar matahari dan kehitaman yang ditimbulkan menjadi lebih nyata bila dipaparkan dengan sinar biru dibandingkan sinar merah, dan dilanjutkan dengan ditemukannya spektrum sinar Ultraviolet, yang saat itu ia namakan “infraviolet”.
Walaupun penemuan sinar Ultraviolet merupakan tonggak sejarah penting dalam evolusi usaha manusia untuk melindungi dirinya dari sinar Matahari, diperlukan bertahun-tahun sebelum berbagai aspek mengenai sinar Ultraviolet menjadi jelas. Hal ini terutama disebabkan karena kepercayaan masyarakat umum bahwa kulit yang terbakar setelah terpapar matahari terjadi akibat efek panas yang dihasilkan sinar Matahari. Kepercayaan itu berubah pada tahun 1820, ketika seorang peneliti, Home, dari Inggris melakukan percobaan dengan memaparkan salah satu tangannya dengan sinar matahari dan membungkus tangannya lainnya dengan secarik kain berwarna hitam. Ia menemukan bahwa luka bakar pada kulitnya hanya terjadi pada tangan yang terpapar matahari, walaupun thermometer pada tangan yang dibungkus kain menunjukkan suhu yang lebih tinggi. Penelitian ini dilanjutkan oleh Widmark di Swedia pada tahun 1889 yang menemukan bahwa radiasi Ultraviolet mengakibatkan kemerahan pada kulit. Setelah penelitian yang dilakukan oleh Home dan Wilmark, diperlukan beberapa saat sebelum diketahui secara luas bahwa sinar Ultravioletlah yang mengakibatkan kemerahan dan nyeri pada kulit yang terpapar sinar matahari.
Picture
Pada Perang Dunia I, Hausser dan Vahle dari German membuat penelitian yang merinci berbagai aksi spektrum cahaya terhadap timbulnya kemerahan dan pigmentasi (kecoklatan) pada kulit manusia. Mereka menemukan bahwa timbulnya kemerahan dan pigmentasi pada kulit yang terpapar sinar matahari terutama disebabkan oleh sinar Ultraviolet berpanjang gelombang dibawah 320 nm. Pada tahun 1932, Kongres Internasional Cahaya Kedua yang bertempat di Copenhagen, Denmark, mengusulkan untuk membagi spektrum cahaya Ultraviolet menjadi tiga spektrum: UVA (320-400 nm), UVB (290-320 nm), dan UVC (<290 nm).
Part 3. “ Penemuan Tabir Surya dan SPF “
Picture
Berbagai usaha manusia untuk melindungi kulitnya dari sinar matahari telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dilakukan dengan beragam cara seperti menggunakan pakaian tertutup, cadar, topi, turban, payung, menghindari paparan sinar matahari langsung dengan cara berteduh serta menggunakan berbagai bedak. Pada zaman Mesir kuno, minyak zaitun digunakan sebagai tabir surya.

Tabir surya yang pertama kali digunakan secara luas adalah Red Vet Pet, kepanjangan dari red veterinary petrolatum, yang diproduksi pada tahun 1944 oleh Greene di Amerika Serikat. Pada Perang Dunia II, terdapat kebutuhan akan tabir surya berkualitas bagi para prajurit yang bertempur di daerah tropis. Saat itu, Red veterinary petrolatum menjadi tabir surya yang paling praktis dan efektif sehingga dimasukkan kedalam perlengkapan standart peperangan. Dikala itu red vet pet merupakan tabir surya fisik dengan efektivitas yang terbatas. Walaupun demikian, red vet pet memiliki kelemahan berupa tampilannya yang berwarna merah, lengket, selain juga perlu digunakan dengan cukup tebal agar dapat berfungsi secara efektif.
Setelah masa perang, terjadi perubahan gaya hidup di berbagai Negara. Banyak majalah-majalah wanita di Amerka menampilkan gaya hidup baru, yaitu tren mendapatkan warna kulit yang berwarna coklat keemasan dengan berjemur dibawah sinar matahari. Hal ini memunculkan kebutuhan akan tabir surya berkualitas dengan kualitas perlindungan yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Hal ini diiringi dengan munculnya kebutuhan untuk mencari metode pengujian yang lebih baik untuk menyeragamkan kekuatan perlindungan tabir surya. Pada tahun 1956 Schulze di German merancang metode pengujian daya perlindungan tabir surya yang tersedia secara komersil dengan memberikannya label Protection Factor.
Protection Factor diperoleh dengan cara mebandingkan lama paparan matahari yang dibutuhkan untuk menghasilkan kemerahan pada kulit yang menggunakan tabir surya dibandingkan dengan lama paparan matahari yang dibutuhkan untuk menghasilkan kemerahan pada kulit yang tidak menggunakan tabir surya.
Pada tahun 1974, metode ini kemudian disempurnakan oleh Greiter dari Austria, yang mempopulerkan konsep Sun Protection Factor (SPF). Pada tahun 1978, metode ini diadopsi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Amerika Serikat sebelum pada akhirnya diakui secara internasional sebagai ukuran kekuatan perlindungan tabir surya terhadap kulit.
Picture
Comments
    Selama hampir 20 tahun klinik Estetiderma telah memberikan layanan perawatan kulit yang terbaik kepada pelanggan kami. Kami menggabungkan tindakan perawatan kulit di klinik oleh Beauty Therapist kami dengan tindakan pengobatan kulit secara medis oleh dokter sehingga hasilnya maksimal dan memuaskan.

    Kami juga secara rutin mengadakan pelatihan bagi para beauty therapist serta dokter dermatolog untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi berbagai macam masalah kulit.

    Estetiderma adalah gabungan dari 2 kata: “Esthete” yang berarti ahli menilai keindahan dengan “Derma” yang berasal dari kata Dermis berarti berhubungan dengan kulit, menjadikan pengertian Estetiderma sebagai dedikasi penuh dalam bidang keindahan kulit.
    Picture

    Archives

    May 2017
    April 2017
    August 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015

    RSS Feed

    Categories

    All
    Acne
    Acne Facial Care
    Alami
    Anatomi Kulit
    Anti Acne Series
    Anti Aging
    Awet Muda
    Bau Badan
    Bekas Jerawat
    Bersemangat
    Bibir Sehat
    Cantik Tanpa Makeup
    Dampak Stress Pada Kulit
    Diet
    Dokter Ahli Kecantikan
    Eczema
    Elektroporasi
    Estetiderma Eye Treatment
    Face Wash
    Facial Care
    Fashion
    Filler
    Flek Hitam
    Freckles
    Gangguan Aliran Darah
    Hilangkan Flek Hitam
    Hiperpigmentasi
    Hormonal
    Injeksi BOTOX®
    Iritasi
    Iritasi Kulit
    Kaki Pecah-Pecah
    Kebersihan
    Kecantikan Mata
    Kecilkan Pori Pori
    Kecilkan Pori-pori
    Kemerahan Pada Kulit
    Keriput
    Kerutan
    Kerutan Seputar Mata
    Kerut Wajah
    Ketiak
    Klinik Estetiderma
    Komedo
    Kuku Indah
    Kuku Sehat
    Kulit Berminyak
    Kulit Bersinar
    Kulit Bersisik
    Kulit Halus
    Kulit Indah
    Kulit Kasar
    Kulit Kendur
    Kulit Kepala
    Kulit Kering
    Kulit Ketiak
    Kulit Kusam
    Kulit Sehat
    Kulit Sensitif
    Kulit Seputar Mata
    Kurangi Jerawat
    Kurangi Kerut
    Lemak
    Makanan Berkalori Tinggi
    Makanan Sehat
    Makeup
    Masalah Ketombe
    Masker
    Matahari
    Medical Peeling
    Medical Skin Peel
    Membersihkan Wajah
    Memutihkan Ketiak
    Memutihkan Wajah
    Mencerahkan Kulit
    Mencuci Muka
    Mengencangkan Kulit
    Mengurangi Berat Badan
    Mengurangi Jerawat
    Menurunkan Berat Badan
    Microdermabration
    Neurodermatitis
    Non-Comedogenic
    Obesitas
    Olah Raga
    Oxygen Jet Therapy
    PDT
    Pelembab
    Pencegahan
    Penuaan Dini
    Penyakit Kulit
    Penyebab Flek Hitam
    Perawatan Kecantikan
    Perawatan Kulit Wajah
    Percaya Diri
    Pigmentasi Wajah
    Pori Kulit
    Pori-pori
    Pori Pori Besar
    Pori-pori Besar
    Pori-pori-besar
    Pori Pori Kasar
    Pori-pori Kasar
    Pori Pori Membesar
    Pori-pori Membesar
    Produk Estetiderma
    Radio Frequency
    Rambut Rontok
    Rambut Sehat
    Rosasea
    Scrub
    Selulit
    Sisa Makeup
    Sunburn
    Tabir Surya
    Tanda Penuaan
    Terapi Es
    Tidur Nyenyak
    Treatment Di Estetiderma
    Vitamin C
    Vitamin E
    Weekend

Temukan informasi terbaru dari kami, penawaran khusus dan berbagai tips

* indicates required